Kamis, 28 Agustus 2025

"Cinta yang Tak Pernah Punya Nama"

Ada cinta yang tumbuh seperti benih liar di celah bebatuan, la tidak direncanakan, tidak pernah diundang, namun tetap saja bersemi, mencuri sedikit ruang dari kerasnya realitas. Begitulah cinta yang datang kepada pasangan orang lain, la tidak pernah dimaksudkan untuk hadir, tapi entah bagaimana, ia menyusup, tumbuh, dan akhirnya menjerat hati.

Cinta ini adalah ironi. la indah dalam rasa, tapi berdarah dalam kenyataan. Ada getaran yang begitu murni ketika mata saling bertemu, ada kehangatan yang tidak bisa dibohongi ketika senyum itu singgah. Namun, seiring dengan itu, ada rasa bersalah yang menempel erat seperti bayangan yang tak pernah bisa dilepaskan. Seakan cinta ini adalah dosa yang dibungkus dengan aroma bunga.

Mencintai pasangan orang lain berarti mencintai dalam diam yang bising. Setiap detik dipenuhi gema rindu, tapi tak ada keberanian untuk mengucapkannya terang-terangan. Ada percakapan yang seolah biasa, namun di dalamnya terselip rahasia perasaan yang tidak boleh diketahui siapa pun. Hati yang merasakan cinta ini ibarat menampung air hujan dalam telapak tangan, indah sesaat, tapi tak pernah bisa digenggam lama.

Filsafat rasa mengajarkan bahwa cinta adalah anugerah, tetapi juga ujian. Cinta bisa menjadi jalan menuju cahaya, tetapi juga bisa menyeret manusia ke dalam kegelapan. Maka ketika cinta jatuh kepada pasangan orang lain, ia menjadi persimpangan yang paling rumit: apakah mengikuti suara hati yang penuh desir, atau taat pada moral yang penuh batas?

Betapa gamang rasanya, ketika kebahagiaan yang dirasakan lahir dari sesuatu yang tidak seharusnya. Setiap tawa yang berbagi, diam-diam menyalakan bara cemburu dari jiwa lain yang terluka. Setiap perhatian yang diterima, ada hati lain yang terabaikan. Bagaimana mungkin sebuah cinta yang begitu tulus justru menjadi sebab luka bagi orang lain?

Namun hati adalah wilayah yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan. la memilih siapa yang ingin ia rindukan, tanpa bertanya dulu pada logika atau aturan. la hanya tahu, ada satu jiwa yang membuat denyut terasa berbeda, meski jiwa itu sudah terikat janji dengan orang lain. Inilah paradoks yang paling menyakitkan: cinta yang paling kuat justru sering kali hadir pada waktu yang paling salah.

Mencintai pasangan orang lain berarti berjalan di atas tali rapuh. Satu langkah salah, dan segalanya runtuh-nama baik, harga diri, bahkan mungkin keluarga yang tak bersalah. Maka, cinta ini sering kali tak pernah benar-benar dijalani, hanya dipelihara dalam diam, dalam doa, dalam renungan yang tak berujung. la menjadi cinta yang hidup di antara kenyataan dan imajinasi, seperti bunga yang hanya mekar di malam hari namun layu ketika fajar menyingsing.

Dan di sanalah letak pilunya: perasaan ini nyata, namun tak pernah punya rumah untuk disandarkan. la hanya bisa bersembunyi di balik senyum yang dibuat-buat, di balik percakapan yang seolah-olah biasa, di balik doa yang tak pernah diucapkan dengan lantang. Pada akhirnya, cinta ini menjadi rahasia yang memakan jiwa secara perlahan, seperti api kecil yang tak pernah padam tapi juga tak pernah cukup besar untuk terlihat terang. 

Mungkin itulah hakikatnya: cinta bukan selalu tentang memiliki. Ada cinta yang hadir hanya untuk mengajarkan arti kerelaan. Ada cinta yang tumbuh hanya untuk membuktikan bahwa hati manusia lemah di hadapan rasa. Dan ada cinta yang begitu dalam, namun hanya pantas dijaga di dalam doa, bukan dalam pelukan.

Karena mencintai pasangan orang lain adalah mencintai dengan luka yang sudah pasti. la tidak pernah bisa berakhir dengan kemenangan. Yang tersisa hanyalah keheningan, doa, dan kesadaran pahit: bahwa cinta ini, seindah apapun rasanya, tak akan pernah punya nama.